Dewan Karangasem Ajak Maknai Galungan dan Kuningan Sebagai Momentum Tingkatkan Kesucian dan Sradha Bakti.

DPRD Karangasem (Nuansa Bali).  Hari suci Galungan dan Kuningan mengandung makna begitu penting bagi kehidupan umat Hindu ajang perayaan kemenangan Dharma melawan Adharma. Melalui momen baik ini, Ketua DPRD Kabupaten Karangasem I Nengah Sumardi SE., M.Si., mewakili semua anggota dan jajaran Sekretariat DPRD Karangasem mengajak kepada seluruh umat Hindu di manapun berada, untuk dapat memaknainya dengan benar dan menjadikannya sebagai momentum untuk senantiasa meningkatkan kesucian, baik pikiran, perkataan, maupun perilaku, serta Srada Bhakti ke hadapan Ida Hyang Widhi Wasa beserta semua manifestasi-Nya.

Untuk tahun 2019 ini, rahina suci Galungan jatuh pada rahina Buda Kliwon wuku Dungulan, Sasih Kasa (Rabu, 24 Juli) dan rahina Kuningan jatuh pada Saniscara Kliwon wuku Kuningan (Sabtu tanggal 03 Agustus) 2019. Dalam lontar Sundarigama dijelaskan, bahwa hari raya Galungan bermakna filosofis menyatukan kekuatan rohani agar senantiasa mendapat pikiran tenang dan terang serta pendirian yang kuat dan tangguh. Bersatunya rohani dan pikiran yang terang inilah, sesungguhnya wujud daripada Dharma dalam diri. Sedangkan segala kekacauan pikiran itu (byaparaning idep) itulah yang dipercaya sebagai wujud Adharma. Dari konsepsi inilah, kemudian didapat kesimpulan, bahwa hakikat Galungan adalah merayakan kemenangan Dharma (kebaikan) melawan Adharma (kejahatan).

Karenanya, sudah sepantasnya umat Hindu memaknai hari suci Galungan sebagai hari untuk mulai melaksanakan jalan kebaikan dan kebenaran sebagai tuntunan untuk menjalankan segala swadharmaning kehidupan di dunia ini. Sebelum puncak perayaan Galungan ada sejumlah runtutan yang harus dijalani umat Hindu yang masing-masing memiliki makna filosofi yang sangat penting diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satunya adalah Sugihan Jawa yang bertujuan untuk membersihkan dan menyucikan Bhuwana Agung (alam beserta isinya), dan Sugihan Bali bertujuan untuk membersihkan dan menyucikan Bhuwana Alit (badan jasmani dan rohani).

Selanjutnya pada Redite (Minggu) Paing wuku Dungulan diceritakan Sang Kala Tiga Wisesa turun mengganggu manusia. Karena itulah pada hari ini dianjurkan Anyekung Jñana (mendiamkan pikiran) agar tidak dimasuki oleh Butha Galungan. Dalam lontar itu juga disebutkan Nirmalakena (orang yang pikirannya selalu suci) tidak akan dimasuki oleh Butha Galungan. Penyajan Galungan, jatuh pada Soma Pon Dungulan. Pada hari ini orang yang paham tentang yoga dan samadhi melakukan pemujaan. Selanjutnya pada Anggara Wage wuku Dungulan disebutkan Penampahan Galungan. Pada hari inilah dianggap sebagai hari untuk mengalahkan Butha Galungan dengan upacara pokok, yakni membuat banten byakala yang disebut pamyakala lara melaradan.

Umat kebanyakan pada hari ini menyembelih babi sebagai binatang korban. Namun makna sesungguhnya, umat Hindu hendaknya mampu membunuh sifat-sifat kebinatangan yang ada pada diri umat Hindu masing-masing. “Mari jadikan momentum rahina suci Galungan dan Kuningan ini sebagai hari yang benar-benar mampu mengendalikan sifat-sifat ‘Kebinatangan’ menjadi sifat-sifat ‘Kedewaan’, sehingga kemenangan Dharma yang sesungguhnya dapat diwujudkan secara real dalam menjalankan swadharmaning kehidupan di dunia ini, bukan sekadar hanya sebatas melaksanakan tradisi rutin tanpa pemaknaan yang benar dan sunguh-sungguh. Seperti melakukan hal-hal yang bertentangan dengan ajaran agama, seperti mabuk-mabukan, trek-trekkan, serta perilaku yang dapat merugikan dan membahayakan orang lain,” tegas  Ketua DPRD Kabupaten Karangasem.

“Pada kesempatan ini tityang menghimbau sekaligus mengharapkan agar makna kemenangan Dharma di hari raya suci Galungan dan Kuningan ini benar-benar dimaknai sekaligus diimplementasikan dengan baik dan sungguh-sungguh, sehingga betul-betul dapat menjadi ketenangan dan kemenangan bagi seluruh umat manusia. Pada kesempatan yang baik ini, tityang mewakili segenap jajaran di lingkup Sekretariat DPRD Kabupaten Karangasem mengucapkan “Selamat Menyambut dan Merayakan rahina suci Galungan dan Kuningan” dumogi Ida Hyang Widhi Wasa, bhatara-bhatari, dan para leluhur stata mapaica kerahajengan, kerahayuan menuju kehidupan yang jagadhita lahir dan bhatin kepada kita semua,” tegasnya bertutur. *** MNB-Tim Redaksi

Facebook Comments