Kuatkan Keyakinan, Adat, Budaya, Hadapi Era Milineal. Yayasan Sabha Budaya Bali Gelar Pembinaan di Kelandis, Buleleng.

Kuatkan Keyakinan, Adat, Budaya, Hadapi Era Milineal

Yayasan Sabha Budaya Bali  Gelar Pembinaan di Desa Adat Kelandis, Buleleng

 

Guna meningkatkan pemahaman sekaligus menguatkan keyakinan umat Hindu terhadap agama, adat, tradisi, budaya guna menghadapi era milineal yang sarat dengan tantangan dan perubahan itu, Yayasan Sabha Budaya Bali terus melakukan berbagai upaya dan usaha untuk membekali masyarakat dalam menghadapi zaman globalisasi saat ini, di antaranya secara rutin melakukan penyuluhan dan pembinaan di sejumlah desa di Bali. Untuk tahun 2019 ini kegiatan  diawali di Desa Adat Kelandis, Desa Dinas Pakisan, Kecamatan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, Kamis, 30 Mei 2019.

Sejak kali pertama digelarnya kegiatan ini, terungkap bahwasannya Bali menyimpan segudang persoalan yang perlu segera dicarikan jalan keluarnya. Pantauan Nuansa Bali yang terus mengikuti kegiatan dimaksud, bahwa antusias masyarakat begitu besar.  Terbukti di setiap kegiatan, masyarakat tampak tertib, dan serius menyimak serta menyerap pemaparan para narasumber. Pun, selalu dibanjiri berbagai pertanyaan menyangkut problema kehidupan sehari-hari. Itu membuktikan, betapa hausnya mereka akan sentuhan pencerahan, mulai dari urusan agama, adat, budaya, tradisi, dan persoalan lainnya.

Untuk kegiatan kali ini, Yayasan Sabha Budaya Bali menghadirkan sejumlah narasumber di antaranya; 3 Sulinggih Tri Sadhaka (Siwa, Budha, dan Bujangga) serta sejumlah praktisi bidang Agama, Adat, Seni, dan Budaya. Pembinaan bidang agama disampaikan oleh Ida Pedanda Gede Oka Manuaba dari Griya Taman Kubutambahan, bidang budaya oleh Ida Rsi Agung Wayabya Suprabhu Sogatha Karang, dari Griya Bang, Br. Pasekan Buduk, Mengwi, Badung, serta bidang adat disampaikan oleh Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Kertha Bhuwana dari Griya Batur Giri Murti Glogor, Denpasar, serta didampingi para praktisi agama, adat, budaya dan sejumlah pegurus yayasan seperti;  DR. Drs, I Gusti Made Ngurah, MSi., Drs. I Gede Nurjaya, M.M., I Gede Suardana Putra, dan lainnya.

Bendesa Adat Desa Adat Kelandis, Jro Wayan Sadra dalam jumpa persnya menjelaskan,  Desa Adat Kelandis terdiri dari 4 banjar/tempek dengan jumlah krama sebanyak 270 KK (1200 jiwa). Mata pencaharian krama sebagian besar sebagai petani cengkih, kopi, serta pohon aren/enau. Kelandis disamping mengempon Pura Kahyangan Tiga juga memiliki sejumlah pura lainnya, seperti Pura Sang Kumpi, Pura Banua, Pura Kunci, Pura Maspahit, serta pura-pura yang masih Mertiwi (berupa bebaturan-red).

Terungkap pula, akibat bencana alam Gempa di Lombok beberapa waktu lalu mengakibatkan sejumlah pura seperti Pura Puseh, Pura Dalem, Pura Sang Kumpi, dan lainnya kini kondisinya rusak parah. Pantauan Nuansa Bali di Pura Sang Kumpi, sejumlah bangunan seperti panyengker, candi bentar, serta sejumlah bangunan palinggih di jeroan pura tampak rusak dan memprihatinkan. Akibat terbatasnya dana, hingga saat ini kondisinya masih terbengkalai. Untuk itu lanjut Bendesa Adat Jro Wayan Sadra, pihaknya sangat mengharapkan uluran bantuan, baik dari pemerintah daerah, provinsi, maupun para donatur yang terketuk dan peduli, sudi kiranya untuk membantu meringankan biaya renovasi.

“Berbagai usaha sudah dilakukan seperti mengajukan proposal bantuan ke Pemda Buleleng, dan untuk ke Pemerintah Provinsi Bali, sedang tityang siapkan. Tityang mewakili krama Desa Adat Kelandis, sangat mengharapkan bantuan itu, sehingga segera bisa merenovasi sejumlah pura yang rusak tersebut,” katanya penuh harap seraya tak lupa mengucapkan terima-kasih kepada Yayasan Sabha Budaya Bali yang peduli memberikan penyuluhan dan pembinaan, sekaligus tak lupa meminta maaf apabila ada hal-hal yang tidak berkenan selama acara berlangsung.

Ketua Umum Yayasan Sabha Budaya Bali, DR. Drs, I Gusti Made Ngurah, M.Si., dalam keterangan persnya mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk menguatkan pemahaman dan keyakinan masyarakat Hindu terhadap agama, adat, tradisi, budaya di dalam menghadapi era milineal saat ini, sekaligus untuk memberikan satu motivasi terhadap kebertahanan dalam menghadapi persoalan berbangsa, bernegara, bermasyarakat, dan beragama.

“Tujuan inti daripada kegiatan ini adalah bagaimana kita bisa meningkatkan wawasan masyarakat dalam penguatan kesadaran berbangsa, bernegara, bermasyarakat, dan beragama, serta juga untuk meningkatkan kualitas kehidupan, mengingat tantangan dan godaan, baik dari segi ilmu pengetahuan, teknologi, maupun informasi yang begitu pesatnya. Juga membawa berbagai dampak, baik ke arah kebaikan/kemajuan dan ataupun sebaliknya berdampak pada kemunduran dan bahkan kehancuran,” tegas pria yang dikenal low profile seraya menambahkan bahwasannya Output daripada kegiatan ini adalah berharap agar masyarakat bisa hidup dengan rukun, harmonis, saling menghargai, dan menerima adanya perbedaan, guna mewujudkan kehidupan yang aman, bahagia, damai, dan sejahtera.

Lebih jauh I Gusti Made Ngurah menjelaskan, mengingat  agama adalah merupakan wahyu, maka agama jangan sampai berubah. Namun yang bisa berubah sesuai perkembangan zaman, adalah adat budaya sebagai penyangga agama itu sendiri. Justru, bila adat dan budaya itu tidak berubah, maka ia akan hancur, karena tidak sesuai dengan kebutuhan pada zaman itu. Contoh; bila dahulu mutlak pada zaman agraris umat melaksanakan upacara sampai berbulan-bulan dan itu tidak menjadi masalah.  “Namun, ketika kita dihadapkan pada zaman industri dan dituntut waktu yang serba praktis dan efisien, sementara kita masih berkubang pada upacara dalam waktu hingga berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan, maka kita akan kalah bersaing merebut peluang dalam segala bidang kerja. Karena itu, kita dituntut dapat memanfaatkan waktu se-efisien dan se-praktis mungkin, sehingga terwujud keharmonisan dan keseimbangan,” tegasnya. Agama di Bali dilaksanakan berdasarkan tiga prinsip yakni Sima (desa/tempat) Dresta (kebiasaan-kebiasaan yang diturunkan/diwariskan para tetua atau leluhur terdahulu), dan Semaya (kesepakatan). Sehingga pelaksanaan agama Hindu di Bali berbeda-beda, sesuai dengan Sima, Dresta, dan Semaya di masing-masing desa/tempat bersangkutan.

Pihaknya mengajak kepada krama Desa Adat Kelandis, untuk senantiasa memelihara rasa manyama-braya dan gotong-royong, menguatkan keyakinan, melestarikan/mengajegkan adat, budaya, tradisi yang diwarisi, serta diharapkan selalu waspada kepada pihak-pihak yang ingin membuat adat, budaya, tradisi, serta keyakinan menjadi tidak ajeg lagi. Dalam kesempatan itu Ketua Umum yang murah senyum ini, tak lupa mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah menyukseskan acara penyuluhan dan pembinaan tersebut.

Camat Kubutambahan, Drs Made Suyasa, M.Si., dalam sambutannya mengaku sangat mengapresiasi pelaksanaan kegiatan ini, dan berharap agar ke depan dapat  dilaksanakan secara berkelanjutan di desa yang lain di wilayah kecamatan yang dipimpinnya. Kecamatan Kubutambahan sendiri kata camat yang dikenal humoris ini, memiliki 13 desa dinas yang di dalamnya terdapat 22 desa pakraman, dan oleh Bupati Buleleng, Desa Adat Kelandis ditetapkan sebagai desa budaya.

Pada sesi dharmatula (tanya jawab-red), akibat saking antusiasnya masyarakat, sampai-sampai waktu yang disediakan terasa kurang. Dimana pembinaan yang sedianya dirancang sampai pukul 12.00 Wita, terpaksa molor hingga pukul 13.30 Wita, dan itupun sudah dibatasi hanya empat penanya. Di antaranya Nyoman Rata, Jro Mangku Rentena, Ketut Rauh (Kadus. Kelandis), serta Nengah Sumadia (Jro Mangku Dalem).

Mereka tanpa beban begitu semangat mengeluarkan semua unek-unek yang selama ini terus menggelayuti benaknya dan berharap bisa mendapat jawaban yang pasti dari para narasumber yang hadir pada kegiatan tersebut. Berbagai pertanyaan mulai dari urusan pelaksanaan Panca Yadnya hingga persoalan lainnya disampaikan pada sesi Dharmatula (tanya jawab).

Seperti tentang Dresta Ngaci (ngaturang sampi ke pura), makna Candung, seputar pelaksanaan upacara bagi yang terkena musibah kebakaran, baik pura maupun rumah tempat tinggal, prosesi upacara kematian terutama bagi yang meninggal akibat mati salah pati, ulah pati, serta prosesi yang benar pelaksanaan upacara mesagi/munjung, terhadap krama yang meninggal namun belum diaben, serta persoalan lainnya.

Semua pertanyaan krama tersebut dapat dijawab dengan baik dan  sangat memuaskan. Sejumlah krama sangat mengharapkan, ke depan kegiatan semacam ini dapat dilaksanakan secara berkelanjutan di desanya, sehingga persoalan yang dihadapi dapat dipecahkan bersama. Acara yang dilaksanakan di Wantilan Pura Sang Kumpi itu dihadiri Camat Kubutambahan, Perwakilan MADP, Perbekel Desa Pakisan, Kelian Dusun Kelandis, Bendesa Adat Kelandis, unsur keamanan; polisi dan TNI, pecalang, prajuru desa, tokoh adat dan agama, serta ratusan krama Desa Adat Kelandis. Kegiatan ditutup dengan penyerahan sejumlah buku oleh ketua yayasan dan diterima langsung bendesa adat, desa adat setempat. *** MNB-Andi & Tim.

Facebook Comments