PROSESI PASUPATI PETAPAKAN RATU GEDE SAKTI SENGANAN KANGINAN TABANAN

Seni dan Budaya

 

Prosesi Pasupati Petapakan Ratu Gede Sakti Puseh Dasar

Senganan Kanginan di Pura Luhur Pucak Bukit Sari 

Oleh: Ni Wayan Eko Yuliyastuti, S.Pd

Bertepatan rahina Anggara Paing Medangkungan, Selasa (31/7/2018) pukul 14.00 wita, warga Desa Pakraman Pacung, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, mendak Petapakan Ratu Gede Sakti Puseh Dasar Senganan Kanginan, Kec. Penebel, Kab. Tabanan Bali keiring mekolem selama tiga hari di Desa Pakraman Pacung. Rauhnya Petapakan Ratu Gede Sakti Puseh Dasar dalam rangkaian prosesi pasupati setelah dilaksanakan meapon (perbaikan). Pada hari pertama Selasa (31/7/2018) Ida nunas pasupati di Taman Cakra Pura Luhur Pucak Kembar, dilanjutkan hari ke dua Rabu (1/8/2018) Ida nunas pasupati di Pura Luhur Pucak Nyapu Jagat, dan terakhir hari ke tiga Kamis (2/8/2018) Ida nunas pasupati di Pura Luhur Pucak Bukit Sari.

 

Petapakan Ratu Gede Sakti Puseh Dasar kesah dari Pura Pucak Nyapu Jagat menuju ke Pura Pucak Bukit Sari sekitar pukul 14.00 wita. Sekitar pukul 16.00 wita dilanjutkan dengan prosesi mesucian di Beji Pura Pucak Bukit Sari. Malamnya dipentaskan berbagai tarian sehingga membuat suasana di pura semakin meriah. Tengah malam sekitar pukul 24.00 Wita dilaksanakan prosesi pasupati menuju areal pasupati di utama mandala. Sebagaimana tradisi yang berlaku di pura ini, prosesi pasupati dilaksanakan tengah malam mulai pukul 24.00 Wita sampai dini hari pukul 05.30 Wita di areal utama mandala. Saat prosesi berlangsung semua lampu dimatikan sehingga suasana menjadi gelap dan begitu hening.

Swarsi (2008) mengemukakan bahwa upacara pasupati merupakan upacara yang berfungsi menghidupkan dan memohonkan kekuatan magis terhadap benda-benda tertentu yang akan dikeramatkan. Menurut kepercayaan Hindu dan masyarakat Bali masih diyakini bahwa segala sesuatu yang diciptakan Tuhan Yang Maha Esa mempunyai jiwa, termasuk juga yang diciptakan manusia bisa disebut mempunyai jiwa/ kekuatan magis dengan cara memohon kehadapan Sang Pencipta menggunakan sarana upacara. Setelah diberikan kekuatan magic, para pendukungnya wajib memeliharanya.

Upacara pasupati mengandung makna memohon benda yang disakralkan itu berjiwa dan mempunyai kekuatan gaib, benar-benar benda mati tersebut bisa dihidupkan melalui upacara pasupati. Upacara pasupati menyebabkan semuanya berubah secara nyata, dimana benda-benda yang sebelumnya mati (tidak punya roh) setelah diupacara pasupati seperti keris, arca, barong, patung maupun benda lainnya mempunyai roh/ jiwa dan mempunyai kekuatan magic yang disucikan oleh pemiliknya, baik perorangan maupun kelompok masyarakat sebagai pendukung.

Sekitar pukul 05.30 Wita prosesi pasupati berakhir dan dilanjutkan dengan pralingga tapakan Ida berupa barong dan rangda kesolahan. Pada saat mesolah banyak yang kerauhan baik dari pemundut maupun warga sendiri. Pukul 13.00 Wita pralingga tapakan Ida ka-iring budal ke joga Puseh Dasar Senganan Kanginan.

Keberadaan Pura Pucak Bukit Sari

Pura Pucak Bukit Sari memang terkenal turun-temurun sebagai tempat nunas pasupati petapakan barong di Bali. Puluhan petapakan barong dari berbagai daerah di Bali pernah nunas pasupati di pura ini. Mengenai asal usul adanya Pura Pucak Bukit dapat diketahui melalui sumber purana dan peninggalan tulisan kuno pada aling-aling memasuki madya mandala. Berdasarkan Purana Pura Pucak Bukit Sari (terjemahan/ oleh I Ketut Sudarsana) keberadaan Pura Pucak Bukit Sari tidak dapat dilepaskan dari perjalanan Arya Sentong dengan Ratu Sakti untuk datang ke Bali dari Nusa Penida. Setibanya di tanah Bali keduanya menuju ke Pucak Sangkur, dan setelah tiba di tempat ini mereka melakukan yoga semadhi. Terdengarlah sabda dari Bhatara Hyang Siwa Pasupati mentitahkan ke dua orang tersebut untuk melakukan perjalanan suci ke arah selatan mencari Bukit Sari (lokasi di Pacung sekarang) sebab aku juga menciptakan dan ingin berstana di sana.

Setelah itu akhirnya kedua orang itu segera berangkat menuju arah selatan tibalah di Bukit Sari (wilayah Pacung sekarang). Setelah melakukan konsultasi dengan masyarakat Pacung, akhirnya  tercapai kesepakatan dan segera membangun parahyangan. Dengan perasaan yang tulus masyarakat merabas tumbuh-tumbuhan di Bukit Sari dan akhirnya dapat terselesaikan. Kemudian dilanjutkan prosesi pecaruan dan dewa yadnya pada tahun 1510 Masehi, dengan puranya diberi nama Pura Bukit Sari sebagai tempat memuja kebesaran Tuhan Yang Maha Esa dalam prabhawanya sebagai Sanghyang Siwa Pasupati.

Saat itu pula terdengar sabda dari Sanghyang Siwa Pasupati, “Hai engkau masyarakat Pacung, parhyangan ini sebagai tempat untuk memohon pasupati barong dimana tatkala aku memberikan pribasi suci (pemberi pasupati) aku bergelar Bhatara Gede Sakti Ngawa Rat. Aku (Sanghyang Siwa Pasupati) berhak memberikan pengurip-urip/ pasupati terhadap semua tapakan barong di Bali. Kahyangan ini berfungsi sebagai kahyangan umum, selain sebagai tempat nunas pasupati barong, juga untuk tempat memohon waranugraha demi keselamatan tanaman di sawah-sawah.

Di Pura Pucak Bukit Sari ini terdapat tulisan pada aling-aling di madya mandala yang berbunyi: “Om, Ang Ung Mang, Nama Siwa Cala Tapya, Rajya Rsi Bhatara, Giri Sangkur Iniketnya, Ikang Candra Sangkala 1432”, Artinya: ”Ia Tuhan dalam wujud Siwa (Brahma, Wisnu, Siwa) kahyangan ini tiada lain tempat stana dan pertapaan Sanghyang Siwa sebagai gurunya jagat tiga ini dan beliau sebagai raja makhluk yang bergelar Sanghyang Siwa Pasupati dan sebagai guru yogi/ pandhitanya dunia ini, yang erat kaitannya dengan Pucak Sangkur, di bangun pada tahun saka 1432 atau 1510 Masehi”.  ***MNB-@@@. Penulis tinggal di Dusun Pacung, Desa/Kecamatan Baturiti, Tabanan. Pendidikan S1 Pendidikan Biologi Undiksha.

Prosesi Pasupati Petapakan Ratu Gede Sakti Puseh Dasar

Facebook Comments