MANUK DEWATA Dalam Upacara Pitra Yadnya

Adat dan Tradisi

Burungnya Para Dewa, Pengantar Roh ke Swarga Loka 

Manuk Dewata adalah salah jenis burung yang disakralkan umat Hindu. Pasalnya, dalam upacara ritual Pitra Yadnya burung ini digunakan sebagai Manuk Dewata berfungsi sebagai sarana ‘Pengubes-ubes’saat upacara Pitra Yadnya yakni pada saat mengantar jenasah ke kuburan yang diyakini sebagai pengantar sekaligus pembuka jalan bagi roh yang meninggal menuju ke alam Sunia Loka atau Swarga Loka, saat menuju ke Setra (kuburan-red). Lantas kenapa yang digunakan justru burung jenis Cendrawasih dan makna apa yang terkandung di dalamnya? Berikut ulasannya.

Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Kertha Bhuwana dari Griya Batur Giri Murti Glogor, Jl Hasanudin Denpasar menjelaskan, umat Hindu di Bali mempunyai keyakinan yang berlandaskan agama Hindu Bali, dimana dalam pelaksanaan keagamaan mengacu kepada Panca Yadnya. Di dalam Panca Yadnya yang terdiri dari 5 pelaksanaan yadnya dan salah satu di antaranya adalah terkait dengan pelaksanaan penghormatan kepada roh leluhur yang dikenal dengan upacara Ngaben yaitu upacara pembakaran mayat.

Untuk mendapatkan tempat di alam surga, maka pada saat upacara Ngaben, di dalam perjalanan ke kuburan, tempat upacara pembakaran mayat disertai oleh burung Cendrawasih yang kalau di Bali disebut Manuk Dewata. Manuk Dewata adalah seekor burung jenis Cendrawasih yang sakral dan diyakini datang dari alam para dewa.

Manuk Dewata berbentuk burung Cendrawasih yang digunakan dalam upacara Pitra Yadnya yang bertujuan untuk menyucikan roh/atma atau melepas ikatan roh/atma dari badan kasar yang terbentuk dari unsur Panca Maha Bhuta dan Panca Tan Matra sebagai unsur benih kehidupan manusia.

Manuk Dewata lanjut Ida Rsi Bhujangga Waisnawa Kertha Bhuwana yang dikenal bersahaja ini, merupakan wahana sang atma yang berfungsi untuk melancarkan perjalanan atman  dari berbagai rintangan atau hambatan yang akan dialami oleh roh dalam perjalanan menghadap para dewa di alam surga. Manuk Dewata akan membantu membebaskan rintangan daripada sang roh menuju ke alam para dewa (Tuhan Yang Maha Esa) atau dalam manifestasinya sebagai Bhatara Yamadipati.

Ditambahkan Ida Rsi Bujangga ramah dan murah senyum ini, Manuk Dewata diyakini berfungsi untuk melancarkan perjalanan sang roh seperti yang dijelaskan dalam lontar Yama Purana Tattwa. Manuk Dewata berbentuk burung Cendrawasih/burung berbentuk wajah burung gagak. Dalam morfologi Manuk Dewata merupakan jenis spesies burung yang memiliki kemampuan otak dengan tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dari bangsa burung yang lainnya.

Burung Cendrawasih mempunyai kemampuan tinggi dalam membedakan symbol-simbol yang mewakili jumlah numerik  dan juga memiliki kelebihan seperti; kerjasama yang terorganisasi untuk saling dapat berbagi makanan, memiliki semangat kebersamaan untuk dapat saling menolong dan membantu pertemanan guna bertahan hidup, memiliki standar etika yang tinggi di kelompoknya, yaitu jika seekor dari mereka tidak mau berbagi informasi dan makanan dengan sesamanya maka akan mendapat hukuman.

Burung ini tergolong burung pemberani karena memiliki keberanian untuk menghadapi lawan yang lebih besar. Burung Cendrawasih juga dikenal memiliki tingkat kebersihan yang tinggi, karena burung ini dikenal suka mandi untuk mendapatkan kebersihan dirinya. Tanah atau ibu pertiwi, tempat para leluhur, merupakan tempat di mana pernah dilakukan perbuatan yang baik, tempat para leluhur melakukan karya-karya besar, baik dalam perwujudan pisik, hasil budaya, yang sampai sekarang masih dihormati oleh manusia. Di bumi ini pula para dewa pernah mengalahkan para raksasa, sampai diyakini, bahwa para dewa (disimbolkan orang baik) dan raksasa sebagai simbol orang jahat.

Seperti diketahui, pada awalnya pertiwi mengapung dalam air berupa telur besar berwarna emas. Pada saat telur tersebut pecah kemudian menjadi dua yakni bumi dan angkasa, ibu dan ayah, begitu pula makhluk lain berjenis kelamin jantan dan betina. Bumi sebagai saksi, selalu melihat kemenangan dewa, karena kehidupannya selalu berdasarkan kebenaran dan bumi senantiasa memberikan kesejahteraan pada umatnya, sepanjang dikelola dan dipelihara dengan baik.

Disebutkan bahwa bumi ini memiliki dada emas, sehingga siapapun yang bekerja keras akan mendapatkan hasil yang besar. Untuk menghormati semua anugrah ibu pertiwi/tanah leluhur yang sedemikian besarnya, maka wajib hukumnya untuk selalu menjaga kelestarian dan kebersihannya.

 

Para Dewa, Pelindung Leluhur.

Pemujaan terhadap para dewa dilakukan melalui tari, nyanyian, dan persembahan dalam bentuk hidangan/makanan, yang dilakukan secara bersama-sama akan menciptakan suasana kegembiraan. Melalui pemujaan tersebut para dewa akan menjauhkan dari segala duka/kesedihan dan memperoleh perlindungan dari para dewa. Para dewa turun ke tanah leluhur akan melindungi orang yang baik dan menghukum orang jahat. Beliau juga selalu mengawasi dan mencatat segala perbuatan manusia sejak lahir hingga mati.

Pada saat manusia meninggal, para dewa akan menilai dan memberikan penjelasan tentang kebaikan dan kejahatan yang telah dilakukannya semasa hidupnya di dunia ini. Para Dewa juga memberikan balasan termasuk hukuman yang adil atas semua perbuatan yang dilakukan sebelumnya. Para Dewa juga selalu mengawasi dan memberikan keadilan kepada setiap manusia di tanah leluhur sehingga tidak terjadi kekacauan.

Kekayaan Milik Para Dewa

“Di manapun di tanah leluhur ini, di sana pula para dewa ada, oleh karena itu wahai manusia, nikmatilah kekayaan dengan kesadaran, jangan rakus, serakah, namun hendaklah selalu eling (ingat) kepada yang memiliki kekayaan”. Keberadaan para dewa dirasakan, jika kita selalu melakukan pemujaan baik itu dalam bentuk tari, nyanyian, maupun pesta sebagai persembahan mulia dengan baik serta senantisa didasari keyakinan tulus ikhlas, maka kita akan mencapai kebahagaiaan sempurna dan tidak ada jalan lain untuk mendapatkan kebahagaian yang sejati.

Karena para dewa diyakini ada di mana-mana, maka kita dapat menikmati kekayaan dengan baik, dan sebaiknya jangan pernah merasa sombong dengan kekayaan tersebut, dan tidak pernah melupakan sesame yang sedang memerlukan bantuan. Walaupun memiliki kekayaan yang melimpah, tetapi tetap ingat, bahwa semua itu milik para dewa, dan kekayaan itu bersifat sementara dan kapanpun bisa diambil oleh para dewa.

“Wahai manusia, kumpulkanlah kekayaan dengan seratus tangan dan sumbangkanlah kekayaan tersebut dengan seribu tangan, dapatkan hasil yang penuh dari pekerjaan dan keahlianmu di tanah leluhur”. Setiap orang wajib melaksanakan tugas masing-masing dan selalu berusaha mengumpulkan kekayaan semaksimal mungkin, asal kekayaan tersebut didapat dari hasil kerja keras  dan kekal atas dasar kebenaran. Jika ingin hidup bahagia, kita harus selalu menggunakan kekayaan sesuai dengan keperluan (secukupnya), bukan sesuai keinginan (kemewahan) karena sebaiknya kelebihan yang kita memiliki disumbangkan untuk orang yang sangat membutuhkan. Segala sesuatu di jagat raya ini adalah milik para dewa, untuk itu memanfaatkanlah sebaik-baiknya untuk kesejahteraan umat manusia.

 

Burung Milik Para Dewa

Para dewa adalah saudara bagi semua orang, para dewa menciptakan jagat raya ini dan para dewa menyempurnakan seluruh keinginan manusia dan mengetahui seluruh alam semesta ini. Para dewa adalah guru, raja, dan hakim bagi semua orang, untuk itu semua orang hendaknya memuja para dewa dengan baktinya.

Nama lain daripada burung Cendrawasih adalah Selencidis Melano Lenca/Dandin, namun nama lain setempat adalah Warju, Waygue. Burung ini termasuk dalam family Paradisacidae dari Ordopasseri Formes. Namun demikian, Cendrawasih juga termasuk dalam suku Paradisacidae, keberadaannya di pulau-pulau Selat Tores, Papua Nugini dan Australia Timur.

Yang termasuk dalam jenis burung Cendrawasih di antaranya; Paradisaea, Cendrawasih Biru, Cendrawasih Raggiana, Cendrawasih Kuning Besar, Cendrawasih Kerak, Cendrawasih Raja, Cendrawasih Botak, Cendrawasih Merah, Cendrawasih Mati Kawat, Cendrawasih Belah Rotan, Cendrawasih Gagak, Parotia, Toowa, Toowa Viktoria, Toowa Surga, Toowa Cemerlang.

Paruh Sabit Kurukuri, Paruh Sabit Coklat, Astrapia Ekor Pita, Manucodia, Bidadari Halmahera, Paradigalla,  Parotia Sefilatax Lophorina Su, Parotia Carolax Lophorirea, Melampitta, Astrapianigrax Epimackus, Lophorina Superbax Cincinurus, Manucodia, Paradigalla Carunmulatax Epimackus, dan Paradigalla Carunmulatax Parotia Sefil.

 

 

 

 

 

Facebook Comments