MAKNA KETUPAT UPAKARA

Seni dan Budaya

Oleh: I Nengah Rasmiati

 

Sebelum membahas tentang jenis, bentuk, dan makna ketupat upakara, marilah kita terlebih dahulu menengok ke belakang kapankah munculnya ketupat dalam Hindu. Kita telah ketahui bersama, sebagai umat Hindu hendaknya senantiasa menjalankan ajaran agama Hindu jangan sepotong-sepotong. Dalam Tri Kerangka agama Hindu ada disebutkan Tattwa yakni kebenaran, keilmuan atau filsafat, Susila yakni aturan tingkah laku yang baik dan benar, kemudian Acara dan dalam acara terdapat upacara, tempat suci, orang suci dan lainnya.

 Dalam menjalankan ajaran agama sebagai umat Hindu kita telah diajarkan untuk tidak pernah lupa akan kebesaran Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Beliau maha pengasih dan tidak membedakan – bedakan ras ataupun golongan manusia di alam semesta ini. Kita tidak boleh lupa bersyukur dan berterima kasih kepada Hyang Widhi, sekecil apapun anugerah yang kita terima, karena anugerah Hyang Widhi lah yang menyebabkan  kita dapat melangsungkan hidup di alam semesta ini.

Kita tentu tidak dapat hidup sendirian tanpa bantuan  mahkluk lainnya, demikian juga manusia pasti membutuhkan manusia lainnya. Karena itulah Hindu mengajarkan umatnya untuk beryadnya melalui berkarma secara tulus ikhlas. Tanpa berkarma, memelihara badan kita sendiri pun tidak akan bisa. Nah sekarang, kita dapat melihat ciptaan Ida Hyang Widhi. Pernahkan anda melihat Tuhan / Ida sang Hyang Widhi ?.  Ida Hyang Wasa tidak dapat kita lihat karena kita masih terbelenggu dengan unsur keduniawian yang menyebabkan kegelapan, namun kitayakin dan  percaya Beliau itu ada, Maha Besar, Maha Agung, Maha pengampun dan maha penyayang.

Kita diberikan Sabda, Bayu dan Idep (Tri Pramana)  yang menyebabkab manusia dipandang sebagai makhluk paling utama jika dibandingkan dengan ciptaan Tuhan yang lainnya, maka dari itu umat Hindu hendaknya selalu menjaga alam semesta ini agar keberlangsungan hidupnya dapat berkelanjutan. Manusia selalu  berusaha menggunakan hasil alam dan memelihara alam ini, oleh karena itu manusia harus selalu menjaga kesimbangan sehingga keharmonisan dapat terwujud.maka dari itu merupakan tanggungjawab manusia untuk menjaga dan merawat alam bukan sebaliknya.

Dengan berbekalkan pikiran yang merupakan kelebihan manusia dari hewan dan tumbuh-tumbuhan maka manusia dapat menghasilkan hasil budaya yang dijiwai oleh ajaran Hindu. Salah satunya membuat Upakara. Upakara merupakan sarana mendekatkan diri kehadapan Ida Sang Hyang Widhi, karena itu, kita sebagai umat Hindu tidak bisa lepas dari sarana Upakara namun tetap disesuaikan dimana agama Hindu itu tumbuh dan berkembang serta disesuaikan dengan kemampuan. Hindu tidak pernah memaksa penganutnya untuk berupacara dan berupakara yang besar-besar dengan , tetap ukurannya pada kemampuan personal.

Upakara adalah hasil kerja umat Hindu yang mengandung banyak symbol seperti sebagai Wujud Hyang Widhi, sebagai persembahan ataupun sebagai symbol alam semesta ini, yang tentu harus didasari oleh ketulus iklasan. Upakara dalam bentuk bebantenan di Bali merupakan implementasi ajaran Weda. Banten tersebut ibaratkan sebuah kalimat / tulisan ajaran Weda, Ajaran kitab suci Weda tersebut diwujudkan dalam bentuk berbagai symbol oleh sang Tapini atas anugerah Ida Dewi Uma dan Dewi Saraswati, kemudian diteruskan pada para Serati Banten lalu para Serati banten mengajarkannya kepada umat kebanyakan. Para serati Banten tersebut ibaratkan mereka menulis, kemudian para Pinandita dan Pandita membaca tulisan tersebut, sehingga unsur-unsur yang membentuk sebuah Upakara mempunyai makna dan tujuan tertentu. Upakara yang dibentuk dari berbagai jenis bentuk reringgitan, berbagai bentuk Jejahitan. Unsur upakara adalah : Daun, Bunga, Buah-buahan/ biji-bijian, air dan unsur Api.

Berbagai jenis bahan material guna mendapatkan sebuah bentuk upakara, yang dikerjakan dengan tangan yang trampil, dengan mengatur nafas yang baik untuk menuangkan imajinasi pikiran sehingga mendapatkan bentuk yang indah serta mengandung nilai filosofis untuk memuja Ida Hyang Widhi. Khusus untuk Ketupat adalah merupakan salah satu unsur yang membentuk sebuah Upakara, tapi juga dapat berdiri sendiri.

Adakah sastra yang menyebutkan adanya penggunaan Ketupat dalam Upakara ?

Segala kegiatan yang dilakukan oleh umat Hindu pada dasarnya untuk kerahayuan bersama, apalagi yang namanya Ketupat, sebagai sarana upakara untuk persembahan yang dikerjakan dengan tangan trampil. Dalam Bhagawadgita, III, 14 ada disebutkan ;

Annad bhavati bhutani, Parjayad annasambhawah, Yajna bhavati parjanyo, Yajna karma samudbhawah.   Artinya : Karena makanan, makhluk dapat hidup. Karena hujan makanan itu tumbuh, Karena yadnya/persembahan hujan itu turun Persembahan itu ada karena kerja (karma).

Dari sloka di atas kata anna (m) adalah Bahasa Sanskerta kemudian masuk dalam Bahasa Bali annam (an) yang artinya makanan. Di Bali kalua sudah ada yang meneyebutkan anaman  (Alus singgih ) berarti Ketupat (Bahasa Indonesia), kemudian menjadi Bahasa lumbrahnya yaitu : Ketipat , dan sering kita mendengar ucapan “numbas anaman” artinya membeli ketupat (meli Tipat),  yang pada intinya membeli makanan.

Disamping itu melihat keberadaan dan mata pencaharian umat Hindu pada jaman dahulu adalah agraris, sehingga umat Hindu sangat yakin dan percaya kebesaran saktinya Dewa Wisnu yakni Dewi Sri. Dewi Sri adalah identik dengan Dewi Padi atau Dewi kemakmuran, maka dari itu umat Hindu selalu mengutamakan mempersembahkan terlebih dahulu atas hasil pertanian yang diperoleh dari tanah yang mereka olah.

Penghormatan dan wujud puji syukur serta ungkapan terimakasihnya kehadapan Tuhan Yang Maha Esa dalam hal ini Dewi Sri yang telah menganugerahkan umat-Nya kesuburan maka umat Hindu mengolah padi atau beras dalam berbagai wujud seperti berupa Bubur, Nasi, Jajan  dan Ketupat. Semua olahan dari bahan beras dipergunakan dalam upakara. Jika umat Hindu yang Petani di Bali sebelum memanen padinya pasti menggunakan Upakara yang lumbrah disebut Mabyukukung, dimana upakara ini menggunakan berbagai jenis ketupat, namun sekarang sudah jarang kita dapat temui karena alih lahan yang sedang merambah pertanian kita.

Sumber lain menyebutkan, Ketupat adalah salah sarana upakara yang telah ada sejak jaman Bali Mula (882–913), Shri Aji Bhumi Banten, Shri Kesari Warmadewa Udayana di Bali hingga cucunya Airlangga yang menjadi Raja di Jawa mengatakan bahwa Bebantenan adalah sarana/bahasa/lambang, hubungan kesadaran manusia dengan Hyang Agung (Makrokosmos), Ketupat tersebut hasil ketrampilan tangan yang termasuk hasil budaya, membutuhkan ketelatenan, kesabaran dengan mengkait-kaitkan janur / Busung sehingga menghasilkan bentuk yang dibutuhkan. Ketupat setelah selesai dibuat sesuai dengan bentuk yang diperlukan oleh yang membuatnya, akan diisi beras kemudian direbus kurang lebih 1,5 jam untuk memperoleh hasil yang lebih kenyal.

Membuat Ketupat sangat membutuhkan ketelatenan sehingga orang tua-tua kita mengajarkan secara turun temurun agar Ketupat dapat lestari keberadaannya. Maka dari itu, merupakan tugas kita bersama untuk dapat mengajarkan generasi dalam membuat ketupat  baik sebagai hidangan yang dimakan ataupun dipergunakan dalam Upakara / bebantenan.

Facebook Comments