nuansabali.com/Gede

Cerita dibalik TRagedi Gunung Agung 1963.

Spritual

nuansabali.com — “Lari….. Lari….. Lari….. Gunung Agung meledak, teriakan itu sangat yang jelas terdengar ditelinga saya, semua berhamburan menyelamatkan diri, ada yang berlidung menggunakan payung ada yang keluar area pura untuk mencari posisi aman”, ucap Jero Mangku Lingsir Suweca sambil mengkerutkan alisnya menceritakan kondisi kala itu dalam situasi panik. Maklum saja pria yang juga akrab disapa dengan sebutan Jro Mangku Suweca saat kejadian Gunung Agung meletus ditahun 1963 masih berusia 18th dan dia dalah salahsatu saksi kejadian meletusnya Gunung Agung.

Jro Mangku Suweca (78) yang saat itu bertugas mendampingi sang ayah yakni Jro Mangku Tamped di Pura Penataran Agung yang notabene adalah salah satu komplek Pura dari 55 pura yang ada di pura Besakih.

Jro Mangku Suweca yang ditemui di Pura Penataran Agung pada Rabu, 4 Oktober 2017 bercerita, jika saat itu Pura Besakih sedang melangsungkan upacara besar yakni Eka Dasa Ludra, Eka Dasa Ludra adalah upacara yang datangnya setiap 100th sekali menurut perhitungan tahun saka dimana diselenggarakannya upacara ini bertujuan untuk memuja kekuasaan Tuhan yang tidak terbatas dan meresapi segala ciptaan-Nya guna tercipta keharmonisan bhuwana agung (alam semesta) dan bhuwana alit (Bhuana Alit meliputi tubuh manusia, hewan dan tumbuhan) sebagai aplikasi dari filosofi Tri Hita Karana, sebagaimana dalam ajaran agama hindu tri hita karana adalah 3 penyebab kebahagiaan seperti hubungan dengan sesama manusia, hubungan dengan alam sekitar, dan hubungan dengan sang pencipta.

nuansabali.com/Gede
nuansabali.com/Gede

Menurut Jro mangku Suweca, kala itu wilayah Pura Besakih hanya terkena debu dan material lainnya berupa batu yang ukurannya sebesar kepalan tangan orang dewasa. “anehnya saat itu, yang berlindung menggunakan payung justru terkena batu dan yang tidak berlindung malah aman-aman saja, saya sendiri saat itu mencoba berlindung dibalik payung malah terkena lemparan batu yang mengenai bagian tubuh saya hingga saya harus dilarikan ke kelinik terdekat”, ucap Jro Mangku Suweca sembari tertawa kecil ketika ditanya bagian tubuh mana yang terkena batu tersebut.

Sebelum gunung meletus, menurut kesaksiannya saat itu warga yang ada di areal pura besakih tengah melakukan aktifitas berbeda, ada yang sedang sembahyang dan menonton tari-tarian. “nah saat gunung meletus itu dihari ke 9 dari 21 hari rangkaian upacara Eka Dasa Ludra, itu kejadiannya sekitar pukul 23.00 wita, karena malam dari areal Pura Penataran Agung sangat jelas terlihat semburan pijar keluar dari dalam perut bumi”, tutur Jro Mangku Suweca sembari mengarahkan telunjuknya ke arah puncak Gunung Agung.

Nyatanya, upacara terus berlangsung hingga selesai meski sempat ditunda. “akhirnya setelah upacara selesai baru warga pada mengungsi”, tandasnya.

Ditambahkannya, akibat letusan tersebut, areal pura besakih tertimbun debu setebal 2 meter. “2 meter tebalnya dan dibersihkan dalam waktu yang cukup lama”, kenangnya sembari tersenyum.

Pura Besakih yang hanya berjarak 6 kilometer dari Gunung Agung itu merupakan pura terbesar di Pulau Bali dan sangat disucikan. “pura ini sangat disucikan oleh umat hindu terlebih Gunung Agung, bahkan hampir setiap hari umat hindu berdatangan ke Pura Besakih, pun dikala ada upacara di Pura Besakih, salahsatu Jro Mangku yang ada di Pura Besakih akan mengambil air suci atau sering disebut dengan tirta ke pura yang ada di puncak Gunung Agung, Pura ini bernama Pura Giri Kusuma”, ucapnya.

Dan dari penjelasannya, setiap orang khususnya yang hendak mendaki keatas Gunung Agung itu ada pantangannya tersendiri seperti tidak boleh mengenakan perhiasan emas dan wanita yang sedang menstruasi dilarang untuk melakukan pendakian. “sejak dulu itu sebenarnya sangat dilarang bahkan hingga kini, bukti juga banyak, bagi mereka yang melanggar pasti akan kesusahan untuk melakukan pendakian”, ucapnya sembari merapikan busananya.

Jro Mangku Suweca juga berkomentar, jika Gunung Agung tidak meletus sebagai ucap syukur atas keselamatan yang telah diberikan, maka akan membuat sebuah upacara besar, menurutnya selama ini upacara yang belum pernah dilaksanakan adalah upacara rebu bumi. “astungkara, jika tidak terjadi letusan kita akan adakan sebuah upacara besar, belum tau upacara jenis apa, kita akan kumpulkan seluruh sulinggih dari seluruh Bali beserta lontar yang ada, nah dari sana baru kita tahu upacara apa yang akan kita lakukan, tapi sepengetahuan saya upacara rebu bumi belum pernah diadakan, makanya untuk mengetahui itu kita perlu duduk besama”, tuturnya.

Gunung Agung yang memiliki tinggi 3.142 mdpl tersebut ternyata memiliki letak yang berbeda, Jro Mangku menjelaskan jika dilihat dari arah mata angin menurut orang Bali Gunung Agung persis berada di sisi timur dari Pura Besakih namun, jika dilihat dari kaca mata saint  Gunung Agung itu terletak di posisi selatan Pura Besakih sedangkan luas dari areal pura Besakih  kurang lebih sekitar 10 hektar, dengan jarak antar pura yakni berjarak sekitar 2-3 meter.

Kesaksian warga besakih lainnya adalah Komang Sudra (65), yang sempat ditemui, kala itu dia masih berusia 13th saya sedang dirumah kumpul bareng keluarga, tidak ada ciri atau pertanda akan terjadinya letusan, pria yang akrab disapa Komang itu menjelaskan hanya merasakan gempa yang cukup keras. “tidak bisa berlari, jangankan lari, berdiri saja susah, saat itu suasana masih cerah sekitar jam 5 sore Gunung belum meletus, meletusnya malam sekitar pukul 23.00 wita, petugas dari pemerintah kabupaten Karangasem datang ke rumah-rumah warga untuk memberikan informasi agar cepat mengungsi namun karena ada rangkaian upacara di Pura Besakih tidak semua warga mengungsi, saat itu tidak seperti saat ini yang serba cepat terutama untuk penyebaran informasi”, ujar ayah 3 anak ini saat ditemui di Rumahnya yang terletak di Jl. Raya Besakih, (4/10) sore.

Menurutnya, Pura Besakih dan Gunung Agung itu adalah pusat dari semua yang ada di Bali. “Gunung Agung dan Pura Besakih itu adalah pusat dari semua yang ada di Bali termasuk pusatnya pura yang ada di Bali, bagi umat hindu Bali jika mengadakan sebuah upacara keagamaan pasti akan ke Pura Besakih, bagi mereka yang hendak memasuki areal Pura Besakih pun harus benar-benar bersih, dalam artian dia tidak dalam keadaan menstruasi bagi wanita dan atau dalam kondisi berkabung, semisal di rumahnya sedang ada orang meninggal dan belum selesai diupacarai itu tidak boleh memasuki areal Pura”, tuturnya kepada Beritagar.ID

Komang Sudra mengatakan, di kawasan Besakih selain Pura dan mendaki Gunung, tidak ada lagi destinasi wisata lainnya. “disini ya kalau tidak mendaki ya berkeliling melihat Pura Besakih”, ucapnya menutup perbincangan sore itu.

Ditempat terpisah, Made Suzanna (66) salah seorang warga yang berasal dari Singaraja juga sempat bercerita tentang dahsyatnya letusan gunung agung. “saat itu saya berusia 12th, saya sedang bermain dengan teman-teman, gempa dan hujan abu yang kita rasakan disini, saya susah bernafas sambil bergegas pulang kerumah masing-masing”, kenangnya ketika ditemui secara khusus di Desa Banjar, Singaraja pada 28 September 2017.

Pria yang juga mantan kepala desa itu bercerita jika dampak dari letusan gunung agung itu hampir satu tahun penuh. “hampir setahun, kira-kira sampai Januari 1964, seharian kadang langit ini gelap”, tutur pria kelahiran 1951 tersebut kepada Beritagar.ID.

Menurutnya, kala itu orang-orang pada berlarian menuju rumah masing-masing. “kondisinya panik semua, ada yang memasukkan ayamnya ke dalam rumah, ada yang berlari mencari anak-anaknya yang sedang bermain, panik semua kala itu, sat itu waktu kejadian kurang lebih sekitar jam 13.00 wita”, tambahnya.

Gunug Agung yang terletak di sebelah timur kecamatan Rendang Karangasem ini memiliki 6 desa yakni Desa Rendang, Desa Menanga, Desa Nongan, Desa Pesaban, Desa Besakih dan Desa Pempatan serta Gunung Agung sendiri di kelilingi oleh 8 kecamatan yakni Abang, Bebandem, Karangasem, Kubu, Manggis, Rendang, Sidemen dan Selat. Dari data Pusat Vulcanologi dan Mitigasi Biologi dan Bencana Nasional (PVNBG) kecamatan Selat, kecamatan Kubu dan kecamatan Bebandem merupakan lokasi yang di lalui lahar dan dimasukkan zona merah.

Dari data PVNBG, selain Pura Besakih dan beberapa desa yang masuk ke zona merah, tempat wisata pun tak luput dari perhatian, seperti Tulamben dimana tempat ini merupakan destinasi snorkling dan diving dinyatakan sebagai zona merah, Sibetan yang terkenal dengan wisata kebun salak Bali juga termasuk kedalam zona merah, Tenganan yang notabene merupakan penduduk asli Bali dan terkenal dengan tradisi megeret pandan harus ditutup karena terkena zona merah, Taman Ujung merupakan warisan budaya dari kerajaan Karangasem yang dibangun pada masa penjajahan Belanda, Tirta Gangga termasuk kawasan Candidasa yang merupakan objek wisata  pemerintah kabupaten Karangasem juga sudah menyebarkan informasi tersebut melalui website resminya di karangasemkab.go.id.

Pura Besakih yang terletak di Kecamatan Rendang tersebut  berjarak sekitar 1jam perjalanan dari kota Amlapura, Karangasem dengan jumlah penduduk ditahun 2016 mencapai 40 155 jiwa yang tercatat dalam situs resmi karangasemkab.bps.go.id.

Secara keseluruhan, data pengungsi yang dikeluarkan oleh bnpb.go.id per tangga 2 September 2017 pukul. 18.00 wita, berjumlah 140.867 jiwa yang tersebar di 416 titik sembilan kabupaten di Bali dengan daya tampung yang beragam. “daya tampungnya beragam, dan tidak semua warga di pengungsian resmi yang disediakan oleh pemerintah, ada yang mengungsi ke rumah saudaranya yang berada di Denpasar, Tabanan dan sekitarnya”, ucap salah seorang petugas di pengungsian yang enggan menyebutkan namanya tersebut.

Pura Besakih (Desa Rendang) yang berjarak 1jam (sekitar 54km) perjalanan dari kota Denpasar tersebut memiliki jumlah penduduk sebanyak 6.884 jiwa.

Ketika dilakukan pemantauan ke desa Besakih termasuk ke areal wilayah pura Besakih, tak banyak ditemui aktifitas, hanya beberapa warga yang sedang berjaga di beberapa titik yang dianggap rawan. “kita sedang berjaga saling gantian disini, ya ini adalah bentuk antisipasi kami agar tidak terjadi hal yang tidak kita inginkan”, ucap Made salahsatu warga Besakih yang ditemui di lokasi.

Tidak hanya berjaga, nyatanya masih ada warga yang melakukan aktifitas lainnya seperti mencari rumput untuk pakan ternak mereka yang ditinggal mengungsi. “pagi hingga sore hari saya balik ke desa untuk mencari pakan ternak, sorenya saya balik ke pengungsian”, ungkap Sugik pria asal Desa Besakih.

Facebook Comments